Mengapa Aku Tidak Seberuntung dia?

Mengapa Aku Tidak Seberuntung dia?

tidak seberuntung dia

Alpermata.com – Banyak orang yang kurang paham arti sebuah takdir. Sering terlontar kata-kata “mengapa aku tak seberuntung dia?”. Padahal hakikatnya ini berasal dari hati yang kurang bersyukur. Suka membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Jika kita melakukan hal ini maka kita akan selalu mengeluh dan tak jarang kita merasa gagal dengan semua usaha yang kita usahakan selama ini. Kita kecewa, bahkan sering ada yang menyalahkan takdir. Dan memberontak seakan tidak terima sehingga membuat hidupnya semakin buruk.

Sifat manusia memang tidak pernah lepas dari kata lelah, malas, mengeluh bahkan sering menangis. Itu tidak bisa di hindari tetapi ada baiknya kita mengurangi dengan sedikit demi sedikit agar kita tidak melulu seperti itu tanpa ada perubahan. Misalnya ada yang membuka usaha catering rumahan. Dan gak lama juga ada sahabat atau kawan sebelah membuka usaha yang sama. Tetapi anehnya kita merasa pendapatan kita berkurang. Sedangkan dia semakin laris dan semakin di kenal banyak orang.

Kemungkinan besar kita akan memikirkan hal yang negatif bukan? Kita bilang di pake ilmu hitam atau kita bilang tidak berkah hasilnya. Hal ini yang muncul, bahkan terkadang usaha kita berlanjut tutup kerena modal tidak sebanding dengan omset. Hati siapa sih yang gak kecewa. Kecewa sih boleh saja tetapi tetaplah yakin bahwa takdir Allah lebih baik. Ini mungkin kita kurang kreatif atau kita kurang memperbaiki cara kita promosi atau rasa makanan kita kurang enak. Tetapi kita lebih banyak mengomentari usaha orang dan malah gak jarang kita sebarkan isu yang tidak baik kepada orang lain.

Ketahuilah orang yang paling buruk ialah orang yang banyak mengurusi hidup orang lain tetapi dia lupa pada hidupnya. Seharusnya dengan adanya kegagalan yang kita alami, kita lebih intropeksi diri. Misalnya apa yang kurang dari usaha kita dan apa yang dia lakukan agar bisa maju pesat seperti itu. Tak jauh-jauh ada dua orang yang jualan jus buah segar di pinggir jalan. Mereka terlihat sama, menggunakan mobil box, buah-buah yang mereka jajakan juga sama segarnya. Dan kerapian mereka juga sama, bahkan harganya sama. Tetapi omsetnya berbeda. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Mungkin kalau orang yang berpikiran negatif dia akan bilang yang paling laris pake jimat. Padahal hal itu hanya pikiran kita yang terlalu memponis orang lain. Bisa saja yang lebih laris itu pelayanannya lebih lembut, atau rasanya lebih nikmat. Atau juga dia lebih di kenal. Kembali lagi ke takdir yang di tetapkan Allah. Bisa saja dia orangnya yang suka bersedekah, atau rumah tangganya di penuhi iman dan taqwa. Dan juga niatnya jualan sebagai ibadah. Itu merupakan hal yang bisa buat dia lebih unggul dari yang satu lagi.

Kita boleh melihat ke atas bukan untuk perbandingan tetapi lebih untuk agar kita kita lebih bersemangat bukan malah menghentikan usaha. Dan sekali-kali pula kita melihatlah kebawah, agar kita tau bersyukur bahwa serumit apapun kita masih ada lagi yang lebih rumit yang orang lain jalani.

Jangan sering membandingkan hidup kita dengan orang lain. Mengapa aku tidak seberuntung dia? jauhkan kata-kata itu. Gantilah dengan kata-kata yang membangun misalnya. “Suatu hari nanti aku bisa seperti dia” Hal ini tidak menyimpan dengki bahkan malah memotivasi kita untuk tetap berusaha. Kegagalan adalah hal yang wajar kamu alami dan semua orang pernah yang namanya kegagalan. Yang paling penting itu seberapa besar kamu mau bangkit dari kegagalan dan mau merubah semuanya.